Senin, 26 November 2018

KH Sahal Mahfudz Tidak Bertemu Istri Usai Akad Nikah

    Banyak orang yang sudah mengetahui kalau KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz (1937-2014) adalah bukan hanya seorang kiai yang mengajar kitab kuning di pondok, bukan pula kiai yang hanya memberikan nasihat kepada santri dan umatnya.

    Tetapi beliau juga dikenal sebagai kiai yang mampu menggerakkan ekonomi umat, kiai yang piawai menulis hingga melahirkan puluhan karya tulis, dan kiai yang aktif berorganisasi.

    Kiai Sahal terpilih menjadi menjadi Rais ‘Aam Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tiga kali periode secara berturut-turut: sejak Muktamar NU yang ke-31 di Lirboyo tahun 2000, kemudian Muktamar NU di Donohudan Solo tahun 2005, dan Muktamar NU di Makassar tahun 2010.

    Bisa dikata kalau kiprah Kiai Sahal di masyarakat dan di organisasi –NU dan MUI- sudah diketahui khalayak umum. Namun, mungkin hanya sedikit saja yang mengetahui kehidupan rumah tangga Kiai Sahal, terutama tentang proses pernikahan Kiai Sahal dan istrinya Nyai Nafisah yang memiliki keunikan tersendiri karena tidak sesuai dengan lazimnya.

    Kiai Sahal mengakhiri masa lajangnya bersamaan dengan hari ulang tahun Republik Indonesia yang kesebelas, 17 Agustus 1966. Ia menikah dengan wanita yang tidak dikenalnya. Nafisah namanya. Anak dari KH. Fatah dan cucu dari KH. Bisri Syansuri.

    Bagi Kiai Sahal, proses pernikahannya dengan Nafisah terasa begitu mendadak. Ketika itu ia sedang mengunjungi sanak keluarga yang ada di desa Sirahan Cluwak Pati, kemudian datanglah seorang santri dan berkata bahwa Kiai Sahal diminta oleh pamannya, KH. Abdullah Salam, untuk pulang segera ke Kajen. Dalam perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan. Ada gerangan apa sehingga ia diminta pulang dengan segera.

    Sesampai di Kajen, Kiai Sahal mendapati beberapa Kiai yang sedang berkumpul, di antaranya adalah KH. Abdullah Salam, KH. Bisri Syansuri, serta beberapa Kiai Kajen. Tentu saja itu membuat Kiai Sahal kaget dan bertanya-tanya. Ia mendekati KH. Abdullah Salam dan bertanya perihal berkumpulnya orang-orang tersebut. Kemudian dijelaskan bahwa dia akan segera dinikahkan dengan anaknya KH. Fatah Jombang.

    Sebagai seorang yang percaya kepada pamannya, ia mengiyakan saja perjodohan tersebut meski ia belum mengetahui calon istrinya itu. Dan tidak berlangsung lama, akad nikah pun segera dimulai dengan dipimpin oleh KH. Bisri Syansuri.

    Uniknya, Kiai Sahal baru bertemu istrinya dua tahun setelah akad ijab kabul tersebut, yakni pada tanggal 6 Juni 1968. Jadi, setelah akad ia menjalani hari-harinya sebagaimana sebelumnya, tanpa hidup bersama istrinya tersebut. Karena memang pada waktu itu, Nafisah baru menjadi mahasiswi tingkat tiga di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Pada awal-awal kehidupan rumah tangga mereka berjalan sebagaimana yang orang-orang alami, yakni melakukan berbagai macam usaha –mulai dari jualan kitab (Kiai Sahal) dan menjahit (Nyai Nafisah)- untuk menggerakkan perekonomian rumah tangga.

    Ada persamaan antara kisah pernikahan Kiai Sahal dan sepupu, Gus Dur. Kalau Kiai Sahal tidak ketemu sang istri selama dua tahun, maka Gus Dur juga tidak ketemu istri selama tiga tahun semenjak akad nikah. Mereka berdua juga sama-sama sudah dipanggil oleh Allah SWT. Lahum Al-Fatihah.

Muchlishon Rochmat, Alumni Perguruan Islam Mathal’ul Falah Kajen Pati.
Sumber : NU Online

Foto: KH. MA. Sahal Mahfudz & Dra Hj Nafisah Sahal

Oleh : Fb Rahima
www.facebook.com/story.php?story_fbid=649901638739563&id=100011591982710&fs=0&focus_composer=0&ref=content_filter

Rabu, 17 Januari 2018

Hubungan Nasab KH. Maimoen Zubair dan KH. Ali Masyhuri

Kyai Mukhdlor adalah orang dari Bonang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah Indonesia. Beliau berkeinginan menyunting putri dari Mbah Ahmad Musthofa Mujarrod, yaitu Nyai Syamsiah.

Kyai Mukhdlor bernazar bila suntingan diterima akan membeli kuda yang terbaik untuk sebagai kendaraan istri dan akan berkata dengan bahasa yang halus (kromo Inggil, Jawa) kepada Nyai Syamsiah.

Hal itu, karena Nyai Syamsiah adalah salah satu Keturunan orang besar, dan Kyai Mukhdlor merupakan putra seorang nelayan, tetapi beliau adalah orang yang berilmu.

Setelah lamaran diterima,  Nyai Syamsiah mengajukan syarat agar tidak dikumpuli Sebelum keduanya melaksanakan haji. Pada waktu itu perjalanan untuk haji dengan menumpang kapal layar dari Indonesia membutuhkan waktu sekitar empat bulan.

Perjalanan pun dimulai, akan tetapi di perjalanan terdampar di pulau Mondoliko, Jepara. Sebuah pulau kecil yang masuk dalam daerah Keling Jepara. Di Pulau tersebut terdapat dua Maqbaroh Sayyid.

Untuk menunggu arah angin yang menuju arah barat, mereka melakukan tirakat di kedua Maqbaroh tersebut.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan terdampar kembali di Pulau Penang Malaysia. Di Pulau ini pun terdapat Maqbaroh Sayyid, tepatnya di dekat masjid kapitan Keling Pulau Penang Malaysia. Dan mereka melakukan tirakat dan menunggu arah angin.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan terdampar kembali di Pulau Singapura, tepatnya di dekat masjid Malabar. Dan melakukan tirakat di Maqbaroh Sayyid di sana.

Setelah selesai, mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di Jeddah sudah tanggal sembilan Dzul Hijjah sehingga menunggu setahun kemudian untuk melaksanakan haji. Dan pada waktu itu, mereka bertaallum kepada orang-orang Alim di Makkah.

Setelah melakukan haji, mereka pulang.

Mbah Mukhdlor dan Mbah Syamsiah mempunyai tiga anak dan diberi nama sesuai dengan nama tempat terdampar.

1. Mbah Mondoliko, yang menurunkan kyai-kyai Tuban, di Pondok Shomadiyyah.
2. Mbah Penang, yang dinikahi oleh Mbah Ghozali bin Lanah yang menurunkan kyai-kyai Sarang, termasuk Mbah Maimoen Zubair.
3. Mbah Singgapur (Mbah Misbah) yang menurunkan kyai-kyai Sidoarjo. Salah satunya adalah Mbah Ali Masyhuri.

Mbah Mukhdlor dan Mbah Syamsiah dikuburkan di Lebo, Sidoarjo. Sedangkan mbah Ahmad Musthofa Mujarrod dikuburkan di desa ngepoh Sidoarjo.

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد اللهم بلغنا زيارتهم بسهولة إنك على ما تشاء قدير وبالإجابة جدير...

Oleh : fb Kanthongumur
www.facebook.com/story.php?story_fbid=1032203423599723&id=100004302244939

Jumat, 05 Januari 2018

Foto KH. Abdul Karim Lirboyo

    Mbah Manab atau KH. Abdul Karim, merupakan pendiri pondok pesantren Lirboyo Kediri. Seoarang yang sangat rendah hati dan hampir selalu menundukkan kepala. Untuk sekedar difoto pun beliau tidak berkenan, sehingga tak heran meskipun difoto tak mempan.

    Hingga ketika akan berangkat haji kedua kalinya bersama sang istri Nyai Dlomroh tahun 50 an, Mbah Mahrus sebagai menantu yang mengurus segala persyaratan matur pada Mbah Manab supaya berkenan difoto. Itupun Mbah Mahrus harus merayu, jika tidak berkenan difoto untuk pasport tidak bisa berhaji.
    Di tengah pemotretan, Mbah Mahrus harus matur berulang kali supaya Mbah Manab berkenan menegakkan kepala beliau. Alhasil itulah satu-satunya foto beliau berdua yang ada, itupun sempat hilang entah kemana. Hingga suatu saat ada salah seorang santri membeli kitab di sebuah pasar (pasar pahing), dan menemukan foto disela kitab. Kemudian diperbanyaklah foto tersebut oleh pengurus dan menjadi satu-satunya rujukan foto beliau.

Oleh: fb Mbah Bram
Dengan sedikit penyesuaian
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10211780474775613&id=1481401194&fs=4

Rabu, 22 November 2017

Syekh Yasin Padang dan Dua Buah Hadist

    Dalam penyusunan disertasinya, Prof. Dr. KH. Sayyid Agiel bin Husin al-Munawwar (mantan menteri agama RI 2001-2004) pernah mengalami kesulitan mentakhrij 2 buah hadits. Beliau tidak menemukan sanad 2 hadits tersebut. Apakah betul hadits atau bukan. Beliau pun akhirnya sowan mendatangi Syeikh Yasin bin Isa Padang.

Saat mendekat pada Syeikh Yasin, Syeikh Yasin bertanya pada Pak Sayyid Agiel, "indak musykilah?".

"Na'am, ya Syaikh", jawab Pak Sayyid.

Syeikh Yasin mendengarkan 2 buah hadits tersebut dari Pak Sayyid. Syeikh Yasin lalu berucap, "nanti malam saya tanyakan kepada Rasulullah".

Besok pagi, Pak Sayyid menemui Syeikh Yasin. Syeikh Yasin bilang: "Ada kabar gembira buat kamu. Tadi malam sudah saya tanyakan kepada Rasulullah, 2 buah hadits kemarin itu memang sabda beliau. Itu ada dalam kitab ini halaman ini dan juz sekian".

Luar biasa.... Syeikh Yasin bisa bertemu Rasulullah SAW sesuka beliau...

Karenanya, belum pernah saya temukan seorang muhaddits yang mengatakan hadits-hadits yang ada dalam kitab Ihya Ulumiddin itu maudhu' (palsu). Mereka hanya mengatakan "laa ashla lahu". Mereka tahu betul siapa Imam Ghazali, satu-satunya ulama yang bergelar Hujjatul Islam.

Maka berkata Syeikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Martapura, yang beliau kutip dari kalamnya Syekh Syarwani Abdan Bangil : "Imam Ghazali itu kedudukannya mulhaq bish-shohabat, karenanya beliau tidak menyebutkan riwayat hadits yang beliau tulis dalam kitab-kitabnya. Imam Ghazali sudah diberi makam ijtima', yang bisa bertemu langsung dengan Rasulullah dalam keadaan mimpi ataupun terjaga".

Wallahu a'lam.

Untuk al-Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Syeikh Yasin bin Isa, Syeikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, Syeikh Syarwani Abdan, lahum al-Fatihah.....

Oleh : fp KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy
www.facebook.com/story.php?story_fbid=907071452792009&id=427042707461555
Sumber Kyai Shofwan Alwie Husein

Minggu, 19 November 2017

Pertemuan KH. Ahmah Djazuli pada KH. Addul Hamid



    Saat masih muda, KH. Fu'ad Mun'im Djazuli pernah bepergian mengawal ayahandanya, KH. Ahmad Djazuli Utsman, untuk menghadiri sebuah acara di daerah Malang.  Mereka pergi dengan mengendarai andong, kendaraan yang tersedia kala itu.

    Setelah acara di Malang usai, KH. Ahmad Djazuli bermaksud melanjutkan perjalanan ke Pasuruan untuk bertamu kepada KH. Abdul Hamid. Hal ini membuat KH. Fu'ad Mun'im merasa khawatir, karena uang bekal perjalanan sudah habis. Saat hendak berangkat, KH. Fu'ad Mun'im mengutarakan kehawatirannya pada sang ayahanda, "Ngapunten, Abah! Sangune sampun telas."  (Mohon maaf! Abah. Uang sakunya sudah habis) KH. Ahmad Djazuli hanya menjawab singkat, "Laa shohiba ilmin mamquutun." (Tiada seorang berilmu pun menjadi terhina).
KH. Abdul Hamid Pasuruan
     Apa yang menjadi jawaban Sang Ayahanda, rupanya belum dapat menghapus kekhawatiran KH. Fu'ad Mun'im. Di tengah perjalanan KH. Fu'ad Mun'im mengulangi perkataannya, "Abah, artone sampun telas." (Abah, uangnya sudah habis). Dan jawaban KH. Ahmad Djazuli  pun tetap sama, "Laa shoohiba ilmin mamquutun."


    Mereka akhirnya sampai di kediaman KH. Abdul Hamid. Sebelum mendekat di kediaman, sekali lagi KH. Fu'ad Mun'im menyinggung perihal uang saku yang benar-benar sudah habis. Namun jawaban KH. Ahmad Djazuli tak berubah sedikit pun,"Laa shoohiba ilmin mamquutun"

    Tak lama menunggu, mereka dihampiri seorang khodam (pembantu) KH. Abdul Hamid. Setelah mempersilakan masuk, si khodam bertanya, "Ngapunten, njenengan paring asmo sinten?" (Maaf, Anda bernama siapa?)
KH. Ahmad Djazuli menjawab, "Kulo Ahmad Djazuli"  (Saya Ahmad Djazuli)
si khodam melanjutkan pertanyaan,:"Saking pundi?" (Dari mana?) KH. Ahmad Djazuli kembali menjawab, "Saking Ploso – Kediri” (Dari Ploso – Kediri) Si khodam mempersilakan mereka supaya menunggu, sebelum kemudian menghaturkan kabar kehadiran KH. Ahmad Djazuli pada KH. Abdul Hamid.

    "Ngapunten, wonten tamu saking Ploso - Kediri. Paring asmo Ahmad Djazuli." (Maaf, wonten tamu saking Ploso - Kediri. Bernama Ahmad Djazuli), kata si khodam menghaturkan kabar. Seketika itu KH. Abdul Hamid yang belum pernah bersua KH. Ahmad Djazuli, langsung berteriak, "Djazuli, man jazula ilmuhu" (Djazuli, seorang yang agung keilmuannya).

    KH. Abdul Hamid sungguh merasa bahagia mendapat tamu yang istimewa, yakni seorang ‘alim yang tidak lain adalah KH. Ahmad Djazuli. Suguhan untuk tamu istimewa ini pun tentu berupa hidangan- hidangan yang sangat istimewa. Mendapati jamuan yang begitu istimewa, giliran KH. Fu'ad Mun'im sambil tersenyum dan dengan mantap berkata, "Laa shoohiba ilmin mamquutun."
    KH. Abdul Hamid tak menyia-nyiakan kesempatan bersua tamu istimewa ini, Beliau kemudian meminta KH. Ahmad Djazuli agar sudi membaca kitab walau sejenak, dengan harapan supaya para santri KH. Abdul Hamid dapat tabarrukan (memperoleh berkah) lantaran KH. Ahmad Djazuli. Tak tanggung-tanggung,  KH. Abdul Hamid menyodorkan kitab Tafsir Al Kabir kepada KH. Ahmad Djazuli. Melihat sang ayahanda disodori kitab tersebut, KH. Fuad Mun’im berkata keheranan, "Abah, kitab ipun ageng njih.” (Ayah, kitabnya besar ya). KH. Ahmad Djazuli. Pun menjawab, “Abahmu iki, Le! Isuk sarapane kitab, awan ya kitab, sore ya kitab, bengi ya kitab." (“Abahmu ini, Nek! Pagi sarapannya kitab, awan ya kitab, sore ya kitab, malam ya kitab).

    Di saat perjalanan pulang, didalam kereta kuda beliau, ditemukan banyak sekali tumpukan amplop berisi uang. Menyaksikan hal itu, KH. Fuad Mun’im  semakin mantap dengan apa yang dikatakan sang ayahanda, KH. Ahmad Djazuli;
"LAA SHOOHIBA ILMIN MAMQUUTUN."

Oleh : fb Aniqulfaiq
www.facebook.com/story.php?story_fbid=1717304311676526&id=100001909227182

Atau disunting dari status Facebook, Muhamad Anam Gozali, 4 September 2016.
www.facebook.com/athesatrya1/posts/1265194333504287

Kamis, 03 Agustus 2017

Menilik Doktrin Minyak


    Ketika negara negara dengan komoditas rempah rempah mulai bangkit karena merdeka sebagaimana Indonesia. Eropa mulai melakukan revolusi industri sehingga rempah rempah mulai ditinggalkan. Dan, komoditas selanjutnya adalah minyak yang tak lain banyak terdapat di Timur Tengah dan berpusat di Arab. Tapi sayangnya, Arab masih dikuasai kerajaan Turki yang notabenya berselisih dengan Eropa. Dimulailah mengadakan propaganda sentimen untuk memisahkan Arab dengan kerajaan Turki. Antara lain dengan semboyan "jika ingin selamat di padang pasir, ikutilah jejak orang orang sebelum kamu" yang dalam arti, Arab jangan ikut Turki, tapi ikutlah Arab.

    Setelah berhasil, mulalilah beberapa tokoh wanita Eropa belajar Islam untuk menghancurkan Islam. Bukan teologinya Islam semata yang dihancurkan, tapi tujuan utama adalah pengambilan minyak. Dan membangunlah suatu pola fikir dalam berislam sehingga muncul Ulama Najed Muhammad bin Abdul Wahab dengan kitab Kasyfil Syubhatil Kholqil Ardli wa Samawaat. Sehingga menurut mereka, perilaku perilaku yang selama ini dijalankan umat Islam sudah melenceng dari Islam dan harus dibunuh.

    Begitu Arab dalam kekacauan, muncullah seorang tokoh Ibnu Saud dengan 40 orang yang dipersenjatai dengan senjata api oleh Eropa guna menguasai Arab dan berhasil. Untuk lebih leluasa menguasai dan melaksanakan doktrinnya, semua situs situs Islam dihancurkan dengan dalih pemurnian Islam kembali pada Quran dan Sunnah. Tak terkecuali makam Rasulullah jadi sasaran, meski akhirnya digagalkan para Ulama NUsantara dengan komite hijaz NU-nya. Berhasilah Ibnu Saud menguasai Arab dan dimulailah misi pengambilan minyak Eropa dengan berdirinya Aramco, perusahaan minyak pertama di Arab.

Kamis, 01 Juni 2017

NU dan Pancasila

    Tidak hanya sekarang, jika ada sebagian muslim yang tidak setuju atas dasar negara Pancasila. Tahun 1945 setelah Indonesia merdeka, pada awal-awal pendirian negeri ini pun Pancasila sangat diributkan dan sangat alot. Sampai membuat para tokoh seperti Bung Karno kuwalahan dan angkat bicara di tengah keputusasaannya,

"Jika tidak suka dengan pancasilaku, buatlah pemersatu bangsa pancasila versi kalian"

    Setelah ditunggu-tunggu ternyata masih alot dan tidak bisa selesai dan hanya mampu menambah tujuh kata dalam piagam Jakarta. Dan karena redaksi piagam Jakarta itupun oleh sebagian dinilai kurang pas dan aneh. Lagi-lagi Bung Karno angkat bicara.

"Sudahlah, jika hanya membuat saya tambah pusing, ada baiknya kalian sowan sajalah pada ketua Ulama se-Indonesia KH. Hasyim Asya'ri mumpung disini juga ada putra beliau KH. Wahid Hasyim"

    Dan KH. Wahid pulang ke Jombang sowan pada abahnya KH. Hasyim Asya'ri guna menyampaikan permasalahan-permasalahan tersebut.
"Gimana bah, Pancasila apa sudah betul secara syar'i?"

"Nanti dulu ya, biarkan saya puasa dulu tiga hari, baca ini 350 ribu kali, setiap ini diulang 350 ribu kali, setelahnya sholat hajat dengan surat ini dan ini masing-masing 41 kali."

    Barulah akhirnya KH. Wahid didawuhi abahnya KH. Hasyim Asya'ri. Bahwa Pancasila sudah benar menurut syar'i dan hapus saja tambahan kata dalam piagam Jakarta tersebut.

    Jadi sepertinya tidak heran dengan bagaimana ta'dzimnya Bung Karno pada KH. Hasyim Asya'ri bahkan sesudah wafatnya. Sampai-sampai setiap kali Bung Karno masuk Jombang, beliau tidak berani memakai sepatunya.
"Saya tidak mungkin memakai sepatu di sini, karena di sini telah terbaring jasad seorang Ulama yang juga telah menyelamatkan Pancasila yang pernah saya buat dan belum selesai."

Oleh : Admin Imam Mahmudi
Diambil secukupnya dari dawuh Gus Muwaffiq
www.youtube.com/watch?v=J3WLCBQaqVA

Jumat, 19 Mei 2017

Kebersahajaan KH. Muhammadun Pondowan Pati

    Mbah Madun, ( panggilan akrab KH. Muhammadun ) figur Kiai yang sangat bersahaja dan dikenal Zuhud. Karena memang begitulah kenyataannya. Beliau diciptakan seakan-akan bukan untuk melayani kemewahan duniawi. Apa yang santri makan itu pula yang beliau dan orang-orang rumah beliau makan. Beliau melayani kebutuhan anak istrinya dengan tangan beliau sendiri. Setiap malam, sebelum fajar datang, beliau menimba air dan memanaskannya untuk keperluan mandi Bu Nyai .

    Melihat pemandangan tersebut, terkadang beberapa santri  mencoba merebut kebiasaan harian beliau ini.
'' Biar kami saja yang menimba, Yai '' Kata santri. Namun beliau menolak halus.
'' Tidak, biarkan aku yang menimba. Kalian itu tahu tidak, siapakah Bu Nyai yang menjadi Istriku itu?  Bukankah dia itu anaknya Kiaiku. Aku setiap malam menimba itu aku niati hidmah sama putrine Kiaiku ''

    Secara dhahir, pekerjaan Mbah Madun itu tidak ada. Kerjaannya setiap hari hanya mengajar santri di pesantren dan berdakwah kepada masyarakat. Tetapi keyakinan soal rejeki yang ditanamkan beliau kepada para santri itu sangat khas Kiai. Kata beliau :
'' Angger Alfiyahe di kebuk,  metu duwite ... ''
Artinya,  asal tetep mengajarkan ilmu,  rejeki datang sendiri.

    Pernah terjadi jatah beras di dapur habis. Ibu nyai sudah was was.  Kalau dibiarkan, esok hari penghuni rumah bisa tidak makan semua. Namun Mbah Madun tetep santai . Kegiatan harian beliau tetap beliau jalankan seperti biasa. Dan fajar harinya, saat pulang jama'ah Shalat Subuh,  beliau mendapati ada satu karung beras tergeletak didepan pintu rumah. Beliau panggil santri :
'' Kang, masukkan beras ini ke dapur, biar seneng hatinya Bu Nyai ...''

'' Dari mana beras ini,  Yi?  '' Tanya seseorang.
'' Tidak usah tanya.  Ada didepan pintu rumahku ya berarti beras ini miliku ''
Jawab Mbah Madun seasalnya.

    Di sekitar kita mungkin ada dan masih banyak sosok-sosok yang seperti beliau. Namun, kehilangan satu sosok seperti beliau ini secara lahiriyyahnya adalah sebuah bencana bagi kehidupan, karena kita yakin betul,  Mautul Alim Mautul Alam.  Kematian seorang Ulama sama artinya dengan kematian semesta.

Oleh : fb Madad Salim
Diambil secukupnya
www.facebook.com/story.php?story_fbid=1416682158369974&id=100000846113244

Jumat, 12 Mei 2017

Antara Kiai Maimun Zubair dan Kiai Dimyati Rois


    Kiai Maimun Zubair dan Kiai Dimyati Rois, keduanya secara fisik memang jarang bertemu tapi sepertinya tidak dengan hati beliau. Dua Ulama sepuh yang merupakan bagian dari Ahwa 9, yaitu Ulama Sembilan yang menjadi Rujukan menentukan Rois Aam PBNU pada Muktamar ke 33 di Jombang.

Abah Dim (panggilan akrab Kiai Dimyati Rois) merupakan murid dari Kiai Zubair Sarang yang merupakan orang tua dari Kiai Maimun. Tapi antara Kiai Maimun dan Kiai Dimyati sangat jarang bertemu, ini karena pada saat Abah Dim ngangsu kaweruh selama 7 tahun di Sarang tepatnya di MIS asuhan Kiai Imam Kholil nderek Ndalem (santri Hidmah), sementara Mbah Maimun masih menuntut ilmu di negri Hijjaz. Namun demikian, keduanya memiliki kedekatan emosional yang sangatlah dekat, karena Kiai Maimun itu Gus e bagi Abah Dim, dan banyak sekali kecocokan pandangan antara keduanya.

    Abah Dim pernah menjelaskan Bahwa Mbah Zubair itu La'llahu Faqih Zamanihi , artinya bahwa Mbah Zubair adalah diantara Ulama yang Allamah pada zamannya. Mbah Zubair itu saat membaca kitab, baru membaca saja sudah seperti menjelaskan, santri yang mengaji sudah faham. Ini sama seperti halnya yang disampaikan Kiai Maimun : Mbah Zubair niku Yen Moco kitab kados dene nerangake.

    Suatu ketika para alumni Alfadlu pesantren asuhan Abah Dim, berziarah pada Masyayikh Syaikhina. Diawali dari Kaliwungu, lanjut ke Lirboyo dan beberapa daerah di Jawa. Pada saat rombongan di Sarang sowan pada Kiai Maimun,
Ngendikane Mbah Mun : Mbah Zubair niku mboten gadah pondok, tapi seng nderek ngaji yo ono teng ndaleme, Mbah ber senajan gak ono pondoke, mung katon sinare, nak neng Kudus koyok Mbah Asnawi.
( Mbah Zubair itu tidak punya pondok, sehingga yang ngaji pada beliau ditempatkan di dalam rumah, meskipun demikian rupanya kealiman beliau begitu bersinar. Sama halnya di Kudus seperti Mbah Asnawi. )
Kiai Maimun melanjutkan...

Sakwuse bapakku wafat, terus kepekso aku berusaha senajan abot, anane pondok yo ngarep omah iki, seng pertama kali ngirim santri ndok pondok iki, yo Mbah Dim.
( Setelah ayah saya (Mbah Zubair) wafat, saya terpaksa membuat pondok meskipun susah. Dan yang pertama kali mengirim santri di pondok ini ya Mbah Dim. )

    Abah Dim pun mengalami Hal yang sama, bahwa memangku pondok itu dipaksa oleh keadaan. Terutama pondok putri Alfadhilah itu sejatinya di buat pondok karena ada seorang dari Tegal Gubug Cirebon menitipkan putrinya. Yang padahal sudah ditolak namun si putri tetap ditinggal hingga temannya pun santri putri banyak dan berkembang hingga sekarang. Adapun yang menamai Alfadhilah adalah  Mbah Cholil Bisri Rembang.

    Mengenai santri pertama Mbah Maimun, beberapa hari lalu pada acara Haflah Lirboyo, Mbah Maimun menceritakan bahwa santri pertamanya adalah Gus Imam Makhrus Ali Lirboyo. Diketahui pula bahwa Abah Dim mempunyai kedekatan yang erat terhadap Kiai Makhrus Lirboyo bahkan sampe ke tiga putra Kiai Makhrus itu mengaji di Kaliwungu di ikutkan pada Abah Dim .

Kepada keduanya mari kita kirim alfatihah semoga keduanya diberikan kesehatan dan panjang umur senantiasa menuntun kita semua. Juga kepada ulama Almadzkur pada tulisan diatas semoga keberkahannya melimpah pada kita semua.

Oleh : fb Ali Nahdhodin pada fp Pecinta KH Dimyati Rois
Disunting sebisanya
www.facebook.com/story.php?story_fbid=1704345976526362&substory_index=0&id=1469902459970716

Selasa, 11 April 2017

Kiai Arwani Jadi Rebutan Bidadari


    Kiai Arwani Amin Kudus, Allahu yarham, beserta putra-putranya tidak habis pikir mengapa akhir-akhir ini istri beliau sering uring-uringan. Padahal sebelum Kiai Arwani sakit, istri beliau tidak pernah berperilaku demikian. Sebelumnya beliau justru menjadi istri yang sangat lembut. Namun setelah Kiai Arwani sakit, keadaan berbalik begitu drastis.

Karena kebingungan, kedua putra Kiai Arwani sowan kepada Maulana Habib Luthfi di Pekalongan. Kepada beliau mereka menyampaikan permasalahannya dan memohon petunjuk. “Ini bagaimana, Habib?” Keluh mereka.

Mendengar penuturan keluarga Kiai Arwani ini, Habib Luthfi tidak segera berbicara. Sejenak beliau terdiam lalu tersenyum. “Nggak apa-apa,” kata beliau

Kemudian beliau melanjutkan. “Ibu kalian uring-uringan itu wajar. Dia lagi cemburu.”

“Cemburu bagaimana, Habib?” Tanya mereka tak memahami.

“Allah memberi kasyaf (tersingkapnya tabir gaib) kepada ibu kalian sehingga dapat melihat suaminya, yaitu abah kalian, sedang menjadi rebutan para bidadari,” jelas Habib Luthfi.

Ketika kedua putra Kiai Arwani pulang kembali ke rumah, mereka menanyakan kepada ibunya perihal sering uring-uringannya itu. Sang ibu dengan tegas menjawab, “Bagaimana tidak marah, lah wong setiap hari aku melihat abahmu dipeluk perempuan cantik-cantik!”

Bila baru sakit saja sudah menjadi rebutan bidadari, bagaimana nanti setelah meninggal dunia? (Dikisahkan oleh KH. Subhan Makmun, Rais Syuriyah PBNU, dalam kajian kitab Tafsir al-Munir di Islamic Center Brebes, Ahad 7 Februari 2016).

Oleh : fb Syaroni as-Samfuriy
www.facebook.com/story.php?story_fbid=1861837184070712&id=100007333444605

Rabu, 22 Februari 2017

Mbah Salam Pati Cegah Mengaji Al-Hikam

Putra Mbah Salam, Kiai Abdullah Salam (tengah) bersama Habib Luthfi Pekalongan dan Habib Ali Bafaqih Bali

    Al-Hikam, kitab karangan seorang sufi besar Syeikh Ibnu 'Athoillah ini sangatlah terkenal bagi umat Islam. Kitab ini membahas tasawwuf atau kerohanian dalam beragama, guna menjalankan hati dalam penghambaan. Di Indonesia, hampir seluruh Kiai khususnya aswaja memberikan kajian kitab ini kepada santri-santrinya. Mengingat isi kalam-kalam hikmah kitab ini begitu dalam yang mampu menghipnotis kerohanian pembacanya untuk lebih berma'rifat kepada Allah.

    Tapi rupanya tidak bagi Kiai Salam (Mbah Salam) Kajen Pati, setiap ada orang mengaji kitab al-Hikam justru dilarang. Dan bukan hanya basa basi, siapa yang tak diizinkan Mbah Salam ternyata setiap melihat isi kitab Al-Hikam malah kebingungan. Al-Alamah Mbah Mahfudz pun tak luput mengalami demikian, karena beliau juga tidak diizinkan oleh Mbah Salam.

    Mungkin cara pandang tentang thariqah beliau, seperti pandangan Imam Malik dan beliau menjabarkan,
"ilmu Thoriqoh kui dak usah ti ji, angger mu'takade sah lajeng ngamal coro syariat InsyaAllah inkisyaf, dugi mriku piyambak."
("ilmu Thoriqoh itu tidak perlu dipelajari, asal i'tiqodnya benar dan beramal secara syariat, insyaAllah akan kasyaf sampai sendiri")

    Mungkin tampak aneh, karena akhirnya putra Mbah Salam sendiri yakni Mbah Abdullah Salam begitu menguasai dalam mengkaji kitab Al-Hikam. Dan ternyata hal tersebut atas izin Sang Wali Pasuruhan, Kiai Hamid. Sampai-sampai KH. Muhammadun Tayu Pati dawuh yang kurang lebih,
"Jika saja Mbah Abdullah belum mendapatkan izin dari Kiai Hamid untuk mengkaji Al-Hikam, Mbah Salam ayahnya yang didalam kubur akan menemui Mbah Abdullah dan tetap tidak mengizinkan. Tapi kalah dengan keromah Mbah Hamid"

Oleh : admin Imam Mahmudi
Diambil kurang lebihnya dari dawuh KH. Muhammadun Pondowan Tayu Pati

Senin, 13 Februari 2017

Kiai Ma'ruf Irsyad Mendatangi Ilmu

KH. Ma'ruf Irsyad (kiri) dan KH.Arifin Fanani
    Suatu hari, KH. Ma’ruf Irsyad (Allah yarham), disowani (didatangi) seseorang, untuk keperluan menanyakan perihal hukum fiqih. Kepada Kiai Ma’ruf, sang tamu menjelaskan pertanyaannya, begini dan begitu.
“Jenengan tunggu di sini, saya tanyakan dulu kepada kiai yang lebih alim dalam masalah ini,” kata Kiai Ma’ruf.
    KH. Ma’ruf Irsyad Kudus kemudian mengambil sepeda unta miliknya, yang biasa beliau gunakan mengajar di Madrasah TBS Kudus dan Qudsiyah. Dikayuhnya sepeda butut tersebut ke arah Utara. Ternyata, beliau pergi ke ndalem (rumah) KH. Arifin Fanani, Kwanaran, kiai pakar ilmu fiqih di Kudus.
    Kiai Ma’ruf mengetuk pintu. Dibukalah pintu itu oleh KH Arifin sendiri. Kebetulan tidak sedang tindakan (bepergian). Kepada Kiai Arifin, Kiai Ma’ruf menjelaskan maksud kedatangannya, menanyakan perihal hukum yang termaksud. Mendengar itu, Kiai Arifin terkejut. Kepada Kiai Ma’ruf yang usianya lebih sepuh puluhan tahun, Kiai Arifin bertanya:
“Panjenengan kok dibela-belain datang ke sini, menaiki sepeda sendirian. Alangkah baik umpama cukup lewat telepon saja, yi,”
“Ilmu itu didatangi, dan dia tidak (patut) mendatangi,” kata Kyai Ma’ruf.

Oleh : Santrimenara

Kamis, 09 Februari 2017

Kiai Chudlori dan Santri Pencuri Bebek


    Pesantren API Tegalrejo masih diasuh Kiai Chudlori. Suatu malam ada santri mencuri bebek (menthok, jawa). Cak Min, warga pemilik bebek awalnya curiga melihat aliran air membawa bulu-bulu bebek, langsung saja menyelidiki dari mana asal bulu-bulu tersebut. Ternyata di atas bukit sedang asyik santri menyembelih bebeknya. Tanpa menegur santri, Cak Min ke Pesantren dan melaporkan pada keamanan Pesantren. Langsung, keamanan melaporkan kejadian tersebut pada Kiai Chudlori. Bukannya mendapat respon, Kiai menanggapi datar dan hanya mengiyakan.

    Esoknya, bukannya santri yang dipanggil Kiai menghadap, tapi malah Cak Min pemilik bebek dijumpai oleh Kiai.
Dengan nada berharap, Kiai dawuh pada pemilik bebek
"Cak, santriku itu dibelain jauh-jauh mondok kemari,, masa karena bebek njenengan, hilang keberkahan ilmunya"

"Bukannya begitu Yai, tapi... "

"Tolong dimaafkan ya Cak, ini sebagai ganti ruginya"
Kiai sambil memberikan uang pada pemilik bebek.

    Santri tidak mengira bahwa Kiai tahu apa yang dia lakukan. Karena Kiai sendiri juga tak sedikit pun marah atau bagaimana, seolah tak terjadi apa-apa dan santripun merasa aman-aman saja. Hingga dua bulan berlalu, ketika Kiai mengajar Nahwu dan seperti biasa tamrinan, yakni Kiai memberikan pertanyaan pelajaran sebelum pelajaran usai. Sampai pada bab alam / nama khusus dan umum (personal/general).

Kiai menunjuk santri tersebut, dan santripun berdiri tanpa ada curiga,
"Fulan,, bebek itu nama khusus apa nama umum"

Bukannya menjawab pertanyaan, santri tersebut malah bersimpuh dan menangis di depan Kiai.
"Maaf, Kiai maaf,, saya mencuri Kiai,, maaf"

    Dengan sendirinya dia tersadar, bahwa sebenarnya Kiai mengerti semua yang terjadi. Dan dengan kasih sayang serta berkah doa Kiai itulah, santri tersebut tetap mendapatkan keberkahan ilmu dan menjadi Kiai besar.

Adalah bagaimana Ulama terdahulu membimbing dan menghadapi kesalahan seseorang. Memanusiakan manusia.

Oleh : admin Imam Mahmudi
Diambil dari dawuh Gus Dur dan KH M. Najib Muhammad.

Selasa, 31 Januari 2017

Santri Nakal Didikan KH. Fattah Hasyim


    Santri, merupakan istilah bagi orang yang berada di pesantren atau orang yang  menguasai ilmu agama, khususnya di Indonesia. Tapi sebagai layaknya manusia biasa tak jarang di pesantren terdapat beberapa santri terbilang nakal.

    Suatu hari di sebuah pesantren, keamanan menangkap santri yang sedang mencuri. Santri tersebut sudah tertangkap beberapa kali dan akhirnya disidang pihak keamanan pesantren. Ironisnya yang dicuri adalah pakaian dalam santri putri (BH,red). 

    Dilaporkan pada Kiai perihal tersebut 
"Yai,, santri ini nakal, sering mencuri BH, kami dari pihak keamanan menginginkan santri ini dikeluarkan"

"Lhooo.. Kalau santri ini nakal jangan bilang saya, saya sudah tahu. Lha dia dipondokan disini karena nakal kok. Apa tak malu, kita dititipi untuk memperbaiki belum baik kok sudah dikembalikan."
Jawab Kiai,, yang membuat kaget para keamanan.

"Tapi ya sudah,, saya hargai hasil musyawarah keamanan bahwa santri ini dikeluarkan dari pesantren, tapi biar sekarang dia tinggal dirumahku saja."
Imbuh Kiai yang semakin membuat keamanan kaget. Bagaimana perlakuan Kiai terhadap santri/orang yang sangat nakal sekalipun. 

    Walaupun tinggal di rumah Sang Kiai, tak banyak yang harus dikerjakan santri tersebut. Ketika Kiai mau mengajar mengaji, santri cuma disuruh membawakan kitab dan menandai setiap bagian akhir Kiai mengajar. Setiap Kiai mau mengimami sholat santri disuruh mempersiapkan tempat, hanya begitu seterusnya selama dia mondok.

    Ternyata dengan cara sederhana tersebut, otomatis dia selalu mengaji dan menyimak setiap kajian dan dawuh Sang Kiai. Begitu juga dengan sholat berjamaah, yang bahkan jadi terbiasa mengikuti Sang Kiai sholat malam.

    Setelah beberapa tahun, akhirnya santri tersebut pulang. Tanpa disangka di kampung dia didatangi banyak orang yang ingin menimba ilmu padanya. Hingga dibuatlah sebuah pesantren karena santrinya yang semakin banyak.
____________

    Diambil dari dawuh KH. Anwar Zahid Bojonegoro. Ada versi lain dawuh dari Gus Dur ketika di Tegalrejo yang hampir sama dan mungkin sama bahwa Kiai tersebut adalah Kiai Fattah Hasyim Jombang, sebagai keamanan pesantren adalah Gus Dur sendiri dan santri tersebut dirahasiakan. Tapi untuk yang dicuri tidak dijelaskan BeHa.. Hahaha.. Meskipun demikian, ada lagi versi cerita

    Pada suatu kesempatan, Gus Dur bertemu santri tersebut yang sudah menjadi Kiai dengan banyak santri. Seolah hanya nyindir dengan santai Gus Dur bertanya,
"yang kamu curi warnanya apa Ndaaa..,?"
Sontak, mereka berdua langsung tertawa terpingkal-pingkal.

Wallahu A'lam...
Al-Faatihah... 

Oleh : admin Imam Mahmudi
Diambil dari dawuh Gus Dur dan KH. Anwar Zahid

Senin, 30 Januari 2017

Berkah Rokok Kiai Wahab Chasbullah


    Ada seorang santri dari Cirebon, mondok kepada KH. Wahab Chasbullah (pendiri NU). Santri dahulu, saat malam Jumat yang kegiatan sedikit longgar, biasa memasak bersama-sama untuk mengganjal perut. Setelah makan, merokok adalah menjadi kebiasaan kebanyakan santri untuk mengobati kepedasan makanan dan mendatangkan kenikmatan tersendiri.

    Celakanya, setelah mencari kesanan kemari, santri tersebut tidak menemukan rokok. Dan ditengah kebingungan dan saat itu masih sangat gelap karena belum ada listrik, dari jauh terlihat seseorang sedang berjalan dan merokok. Tanpa berfikir panjang santri tersebut berlari menghampiri
"Kang, sak sedotan"
(Kang, minta satu hisapan)

"nyoh.. " (ini) 
sembari memberikan rokoknya

    Karena hanya minta satu hisapan, santri tersebut menghisap kuat-kuat rokoknya. Sehingga dengan cahaya dari rokok, dengan kaget santri tersebut tau jika orang yang dimintai rokok tersebut bukanlah seorang santri melainkan Kiainya yakni Kiai Wahab. Langsung, santri tersebut berlari.. 
"Yai... Ngapunten..."
(Kiai... Maaf..) 
Rokok pun terbawa 

"Kang... Jare sak sedotan.. ?"
(Kang... Katanya cuma satu hisapan) 
Kiai Wahab, mencoba menghentikan santri tersebut yang terus berlari.

    Akhirnya, santri tersebut menjadi Kiai besar yang memiliki santri ribuan di Cirebon

Oleh : admin Imam Mahmudi
Diambil dari dawuh KH. Anwar Zahid dan KH. M. Najib Muhammad.

Kamis, 26 Januari 2017

Gus Dur Puasa Suro

    Pada suatu kesempatan, Gus Dur bersama A.S Hikam mantan Menristek yang merupakan teman dekat Gus Dur meghadiri pengajian di Jawa Barat. Acara bertepatan di Bulan Asy-Syura (Suro, Jawa) yang di isi mauidhoh oleh Kiai dari Demak. Dalam mauidhohnya Kiai menyampaikan beberapa keutamaan puasa di Bulan Suro yakni barangsiapa berpuasa satu hari seperti berpuasa satu tahun.

    Seusai acara, Gus Dur dengan keseriusan berbicara pada A.S Hikam temannya,
"Kam, besok puasa lho kam"

"Ah, yang bener Gus"

"Iya Kam, lumayan.. Dawuh Kiai tadi puasa sehari seperti puasa setahun"

    A.S Hikam kurang percaya, karena keadaan Gus Dur yang kurang baik di tengah banyaknya kegiatan. Keesokan harinya, mereka berdua harus pergi ke Tuban menghadiri acara haul. Ditengah perjalanan sekitar waktu Dhuhur, Gus Dur meminta A.S hikam berhenti

"Kam, berhenti cari tempat makan"

"Loh, kan puasa Gus.. ini masih tengah hari"

"Iya Kam, saya ambil setengah tahun saja, lumayan"
Jawab Gus Dur datar.

Oleh : admin Imam Mahmudi
Dari dawuh KH. M. Najib Muhammad

Rabu, 25 Januari 2017

KH Tolhah Mansur Berkah Tikar


    KH Tolhah Mansur adalah pendiri salah satu badan otonom NU yakni IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama). Mungkin tak ada yang mengira, bahwa Kiai Tolhah dilahirkan dari lingkup keluarga biasa bukan dari keluarga kalangan pesantren. Pak Mansur ayahnya, adalah seorang penjual tikar, beliau sangat memuliakan para Kiai. Karena tergolong hidup pas pasan, Pak Mansur sering tabarrukan dengan memberikan tikar-tikarnya pada para Kiai.

    Putra Pak Mansur ini lantas menjadi Kiai besar, KH Tolhah Mansur pendiri IPNU. Yang akhirnya beliau diambil menantu oleh KH. Wahib putra dari KH. Wahab Chasbullah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. KH. Tolhah Mansur mempunyai putra yang salah satunya adalah Romahurmuzy yang sekarang menjadi ketua PPP pusat.

    Ada cerita yang hampir sama, yakni seorang wali dari Madura. Meski hanya orang biasa, tapi setiap acara Haulnya Raden Ibrahim alias KH Syamsul Arifin ayah dari KH As'ad Syamsul Arifin, beliau selalu memberikan sapi untuk acara Haul. Mungkin sebab memuliakan KH Syamsul Arifin yang merupakan wali inilah, akhirnya orang tersebut juga menjadi wali.

    Banyak kisah seperti kisah kisah di atas, dan sebagaimana yang disampaikan KH Qoyyum Mansur saat haul KH Bisri Syansuri Denanyar Jombang 2016. Bahwa banyak orang biasa jadi Kiai karena orang tuanya memuliakan Kiai. Banyak Kiai yang anaknya jadi orang biasa karena menghina kebodohan orang. Kiai barokahi, wong bodo malati (Kiai membawa berkah, orang bodoh bisa menjadi sebab kuwalat).

Oleh : fb Fatih ElMufid
Diambil secukupnya dari dawuh KH. Ahmad Hasan, Rois Syuriyah MWCNU Jombang Kota di Masjid Ar-Raudhoh Sabtu 17/1/2017.
www.facebook.com/story.php?story_fbid=10206266381257924&id=1817501487

Kamis, 19 Januari 2017

Kiai Maimun Zubair Bercerita Pandawalima (Bag. 1)

    Dalam Islam dari permulaan sudah diberi pelajaran bahwa untuk mendapat kebahagiaan lahir batin dunia akhirat agar menjalankan rukun-rukun Islam yang lima. Bagi pecinta pewayangan tentu kita mengenal Pandawalimo (pandowolimo) atau juga disebut Baladewa dan bukan Balakurawa. Mereka adalah Punthadewa, Brantasena, Janaka, Nakula, dan Sadewa yang merupakan penggambaran lima rukun Islam.

    Punthadewa adalah sesepuh dari Pandawalima yang mempunyai jimat Kalimasada (kalimososdo). Kalima itu kalimat dan Sada itu adalah Syahadat yang berarti Kalimat Syahadat. Atau juga diartikan kalima itu kelima dan Sada (sodo) yang dalam bahasa jawa kuno adalah dua belas, yang jika dijumlah menjadi tujuh belas. Disini adalah penggambaran bahwa seseorang bisa dikatakan Syahadad (mengakui adanya Allah), adalah dia yang bersungguh-sungguh disertai menjalankan sholat 5 waktu yang berjumlah 17 rakaat.

    Brantasena (brontoseno) Pandawalima  ke dua yakni yang mempunyai jimat Kuku Pancanaka. Kuku adalah kuku jari, panca berarti lima sedangkan naka berarti waktu. Disini adalah penggambaran bahwa siapa yang mau menjalankan sholat lima waktu akan mendapatkan surga. Mengapa diartikan surga, karena kuku adalah lambang dari surga yang tak lain jika mengingat kisah Nabi Adam dan Siti Hawa. Beliau berdua dijatuhkan dari surga dan sifat dari surga jadi berangsur berubah. Rambut jadi memutih, gigi pun juga berangsur terlepas kecuali kuku yang nyaris tetap.

    Ini juga yang menjadi sebab mengapa Brantasena satu-satunya wayang yang bisa disujudkan, karena sujud merupakan lambang dari sholat. Yakni pengabdian Brantasena kepada Hyang Widhi, Hyang adalah Tuhan sedangkan Widhi adalah satu, yang tak lain adalah Allah.

Oleh : admin Imam Mahmudi
Diambil secukupnya dari dawuh Kiai Maimun Zubair 

Senin, 16 Januari 2017

Kiai Maimun Zubair dan Kitab Wali


     Mengenai penyebaran Islam di Jawa, mungkin memanglah sangat mengherankan. Tanpa peperangan  dan bagaimana para wali mengajarkan dengan kearifan dan pendekatan kultural tapi mampu merubah Islam menjadi mayoritas. Ada yang tak kalah unik yakni, mulai zaman Walisongo hanya terdapat kitab dan masjid-masjid wali tapi semuanya bisa lestari.

    Di Sarang Rembang, terdapat satu satunya Masjid wali yang tepatnya di desa Belitung Sarang. Terdapat tujuh kitab yang terbilang kecil dalam masjid tersebut. Diajarkan yang jika sampai khatam semua bisa jadi kiai besar, yang tidak pernah dibacakan (ngaji) tidak bisa membaca (memahami).
Makam Kiai Abdullah Fattah Mangunsari Tulungagung
    Kiai Maimun Zubair pun merasakan hal tersebut, hingga suatu saat beliau sampai pergi ke Tulungagung Jawa Timur menanyakan perihal tersebut kepada cucu dari Kiai Abdullah Fattah Tulungagung.
" kenapa kitab ini terasa susah dikaji, apa sebabnya..? "

" iya Gus,, (sapaan kepada Mbah Moen) saya itu kitab yang pernah saya mengaji bisa membacanya, tapi yang belum pernah saya mengaji terasa susah, makanya jika saya mengajar tidak pernah sampai khatam. Karena dulu tidak mengaji sampai khatam. "
Jawab Cucu dari Kiai Fattah kepada Mbah Moen. Yang beliau sendiri memang mengajarkan kitab-kitab tinggalan Kiai Fattah, tapi juga selalu tidak sampai khatam.

    Di Masjid Belitung tersebut, kitab tersebut dikaji sejak Walisongo sampai periode terakhir yakni Kiai Abdullah dan Innalillah, semua sudah hilang semua tak ada yg bisa mengkaji. 

    Ada kebiasaan dan pesan sebagian Kiai Jawa, "mengajarkan kitab itu harus kitab yang dulu pernah mengaji."

Oleh : admin Imam Mahmudi
Diambil dari dawuh KH Maimun Zubair

Senin, 09 Januari 2017

Guyonan Rokok Kiai Ma'ruf dan Kiai Abdul Karim


    Tak lama setelah NU resmi lahir th 1926, tak mau ketinggalan, Kota Kediri pun segera membentuk kepengurusan NU di tingkat cabang, dan secara aklamasi, KH Ma'ruf Kedonglo (yg dikenal sebagai waliyulloh Kediri) terpilih sebagai sebagai Rois Syuriah, sedangkan KH Abdul Karim Lirboyo menjadi Ketua Tanfidziyah dan KH Abu Bakar Bandar Kidul sebagai Katib Syuriah NU Kota Kediri (waktu itu, kota & kabupaten menjadi satu). Usia beliau-beliau waktu itu sudah diatas 70 tahunan. Unik juga kalau kita membayangkan ulama-ulama sepuh sekaliber beliau menjadi pengurus harian cabang NU. Tetapi itu juga cukup menggambarkan betapa luarbiasanya NU di awal-awal kelahiranya. Benar- benar sebuah kebangkitan para Ulama.

    Ketiga Kyai Nusantara ini kemana-mana selalu runtang runtung bersama-sama, tetapi dalam urusan rokok, mereka sangat berbeda. Kyai Ma'ruf dikenal sebagai perokok berat, Kyai Abdul Karim tidak merokok sama sekali , sedang Kyai Abu Bakar sesekali terlihat merokok juga. Suatu saat, melihat Kyai Ma'ruf merokok tanpa henti, Kyai Abdul Karim mencoba menggoda : " Kang, iku pawonan opa lambe tho? (Mas, itu tungku api apa mulut?). Kyai Ma'ruf segera menyahuti candaan teman karibnya ini: " Yo iki kang, bedane antarane wedus (dalam riwayat lain "sapi") lan menungso, lek menungso yo ngrokok" (Ya ini mas bedanya antara kambing (sapi) dengan manusia, kalau manusia ya merokok). Sementar Kyai Abu Bakar hanya diam saja melihat kedua sahabatnya ini bercanda, sambil meneruskan bacaan sholawat yg menjadi kebiasannya.

    Di lain kesempatan, Kyai Abdul Karim pernah bercanda : " Wong nok kadung nyekik udud, sok nek nang kuburan ora nemu udud, bakale ngemut dzakare dewe " ( Orang yang sudah kecanduan rokok, saat dikuburan nanti tidak menemukan rokok yang bisa dihisap, maka dia akan menghisap kemaluannya sendiri).
Namun unik juga, kedua menantu KH Abdul Karim, yaitu KH Marzuki Dahlan dan KH Mahrus Ali justru mengikuti jejak KH Ma'ruf Donglo menjadi NU GR (Garis Rokok).
Kendati beliau-beliau berbeda dalam urusan rokok, tetapi mereka sepakat dalam hal minum kopi.

Oleh : fb AN Ang-hab
www.facebook.com/story.php?story_fbid=219188318427545&id=100010091347639