Kamis, 26 Januari 2017

Gus Dur Puasa Suro

    Pada suatu kesempatan, Gus Dur bersama A.S Hikam mantan Menristek yang merupakan teman dekat Gus Dur meghadiri pengajian di Jawa Barat. Acara bertepatan di Bulan Asy-Syura (Suro, Jawa) yang di isi mauidhoh oleh Kiai dari Demak. Dalam mauidhohnya Kiai menyampaikan beberapa keutamaan puasa di Bulan Suro yakni barangsiapa berpuasa satu hari seperti berpuasa satu tahun.

    Seusai acara, Gus Dur dengan keseriusan berbicara pada A.S Hikam temannya,
"Kam, besok puasa lho kam"

"Ah, yang bener Gus"

"Iya Kam, lumayan.. Dawuh Kiai tadi puasa sehari seperti puasa setahun"

    A.S Hikam kurang percaya, karena keadaan Gus Dur yang kurang baik di tengah banyaknya kegiatan. Keesokan harinya, mereka berdua harus pergi ke Tuban menghadiri acara haul. Ditengah perjalanan sekitar waktu Dhuhur, Gus Dur meminta A.S hikam berhenti

"Kam, berhenti cari tempat makan"

"Loh, kan puasa Gus.. ini masih tengah hari"

"Iya Kam, saya ambil setengah tahun saja, lumayan"
Jawab Gus Dur datar.

Oleh : admin Imam Mahmudi
Dari dawuh KH. M. Najib Muhammad

Rabu, 25 Januari 2017

KH Tolhah Mansur Berkah Tikar


    KH Tolhah Mansur adalah pendiri salah satu badan otonom NU yakni IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama). Mungkin tak ada yang mengira, bahwa Kiai Tolhah dilahirkan dari lingkup keluarga biasa bukan dari keluarga kalangan pesantren. Pak Mansur ayahnya, adalah seorang penjual tikar, beliau sangat memuliakan para Kiai. Karena tergolong hidup pas pasan, Pak Mansur sering tabarrukan dengan memberikan tikar-tikarnya pada para Kiai.

    Putra Pak Mansur ini lantas menjadi Kiai besar, KH Tolhah Mansur pendiri IPNU. Yang akhirnya beliau diambil menantu oleh KH. Wahib putra dari KH. Wahab Chasbullah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. KH. Tolhah Mansur mempunyai putra yang salah satunya adalah Romahurmuzy yang sekarang menjadi ketua PPP pusat.

    Ada cerita yang hampir sama, yakni seorang wali dari Madura. Meski hanya orang biasa, tapi setiap acara Haulnya Raden Ibrahim alias KH Syamsul Arifin ayah dari KH As'ad Syamsul Arifin, beliau selalu memberikan sapi untuk acara Haul. Mungkin sebab memuliakan KH Syamsul Arifin yang merupakan wali inilah, akhirnya orang tersebut juga menjadi wali.

    Banyak kisah seperti kisah kisah di atas, dan sebagaimana yang disampaikan KH Qoyyum Mansur saat haul KH Bisri Syansuri Denanyar Jombang 2016. Bahwa banyak orang biasa jadi Kiai karena orang tuanya memuliakan Kiai. Banyak Kiai yang anaknya jadi orang biasa karena menghina kebodohan orang. Kiai barokahi, wong bodo malati (Kiai membawa berkah, orang bodoh bisa menjadi sebab kuwalat).

Oleh : fb Fatih ElMufid
Diambil secukupnya dari dawuh KH. Ahmad Hasan, Rois Syuriyah MWCNU Jombang Kota di Masjid Ar-Raudhoh Sabtu 17/1/2017.
www.facebook.com/story.php?story_fbid=10206266381257924&id=1817501487

Kamis, 19 Januari 2017

Kiai Maimun Zubair Bercerita Pandawalima (Bag. 1)

    Dalam Islam dari permulaan sudah diberi pelajaran bahwa untuk mendapat kebahagiaan lahir batin dunia akhirat agar menjalankan rukun-rukun Islam yang lima. Bagi pecinta pewayangan tentu kita mengenal Pandawalimo (pandowolimo) atau juga disebut Baladewa dan bukan Balakurawa. Mereka adalah Punthadewa, Brantasena, Janaka, Nakula, dan Sadewa yang merupakan penggambaran lima rukun Islam.

    Punthadewa adalah sesepuh dari Pandawalima yang mempunyai jimat Kalimasada (kalimososdo). Kalima itu kalimat dan Sada itu adalah Syahadat yang berarti Kalimat Syahadat. Atau juga diartikan kalima itu kelima dan Sada (sodo) yang dalam bahasa jawa kuno adalah dua belas, yang jika dijumlah menjadi tujuh belas. Disini adalah penggambaran bahwa seseorang bisa dikatakan Syahadad (mengakui adanya Allah), adalah dia yang bersungguh-sungguh disertai menjalankan sholat 5 waktu yang berjumlah 17 rakaat.

    Brantasena (brontoseno) Pandawalima  ke dua yakni yang mempunyai jimat Kuku Pancanaka. Kuku adalah kuku jari, panca berarti lima sedangkan naka berarti waktu. Disini adalah penggambaran bahwa siapa yang mau menjalankan sholat lima waktu akan mendapatkan surga. Mengapa diartikan surga, karena kuku adalah lambang dari surga yang tak lain jika mengingat kisah Nabi Adam dan Siti Hawa. Beliau berdua dijatuhkan dari surga dan sifat dari surga jadi berangsur berubah. Rambut jadi memutih, gigi pun juga berangsur terlepas kecuali kuku yang nyaris tetap.

    Ini juga yang menjadi sebab mengapa Brantasena satu-satunya wayang yang bisa disujudkan, karena sujud merupakan lambang dari sholat. Yakni pengabdian Brantasena kepada Hyang Widhi, Hyang adalah Tuhan sedangkan Widhi adalah satu, yang tak lain adalah Allah.

Oleh : admin Imam Mahmudi
Diambil secukupnya dari dawuh Kiai Maimun Zubair 

Senin, 16 Januari 2017

Kiai Maimun Zubair dan Kitab Wali


     Mengenai penyebaran Islam di Jawa, mungkin memanglah sangat mengherankan. Tanpa peperangan  dan bagaimana para wali mengajarkan dengan kearifan dan pendekatan kultural tapi mampu merubah Islam menjadi mayoritas. Ada yang tak kalah unik yakni, mulai zaman Walisongo hanya terdapat kitab dan masjid-masjid wali tapi semuanya bisa lestari.

    Di Sarang Rembang, terdapat satu satunya Masjid wali yang tepatnya di desa Belitung Sarang. Terdapat tujuh kitab yang terbilang kecil dalam masjid tersebut. Diajarkan yang jika sampai khatam semua bisa jadi kiai besar, yang tidak pernah dibacakan (ngaji) tidak bisa membaca (memahami).
Makam Kiai Abdullah Fattah Mangunsari Tulungagung
    Kiai Maimun Zubair pun merasakan hal tersebut, hingga suatu saat beliau sampai pergi ke Tulungagung Jawa Timur menanyakan perihal tersebut kepada cucu dari Kiai Abdullah Fattah Tulungagung.
" kenapa kitab ini terasa susah dikaji, apa sebabnya..? "

" iya Gus,, (sapaan kepada Mbah Moen) saya itu kitab yang pernah saya mengaji bisa membacanya, tapi yang belum pernah saya mengaji terasa susah, makanya jika saya mengajar tidak pernah sampai khatam. Karena dulu tidak mengaji sampai khatam. "
Jawab Cucu dari Kiai Fattah kepada Mbah Moen. Yang beliau sendiri memang mengajarkan kitab-kitab tinggalan Kiai Fattah, tapi juga selalu tidak sampai khatam.

    Di Masjid Belitung tersebut, kitab tersebut dikaji sejak Walisongo sampai periode terakhir yakni Kiai Abdullah dan Innalillah, semua sudah hilang semua tak ada yg bisa mengkaji. 

    Ada kebiasaan dan pesan sebagian Kiai Jawa, "mengajarkan kitab itu harus kitab yang dulu pernah mengaji."

Oleh : admin Imam Mahmudi
Diambil dari dawuh KH Maimun Zubair

Senin, 09 Januari 2017

Guyonan Rokok Kiai Ma'ruf dan Kiai Abdul Karim


    Tak lama setelah NU resmi lahir th 1926, tak mau ketinggalan, Kota Kediri pun segera membentuk kepengurusan NU di tingkat cabang, dan secara aklamasi, KH Ma'ruf Kedonglo (yg dikenal sebagai waliyulloh Kediri) terpilih sebagai sebagai Rois Syuriah, sedangkan KH Abdul Karim Lirboyo menjadi Ketua Tanfidziyah dan KH Abu Bakar Bandar Kidul sebagai Katib Syuriah NU Kota Kediri (waktu itu, kota & kabupaten menjadi satu). Usia beliau-beliau waktu itu sudah diatas 70 tahunan. Unik juga kalau kita membayangkan ulama-ulama sepuh sekaliber beliau menjadi pengurus harian cabang NU. Tetapi itu juga cukup menggambarkan betapa luarbiasanya NU di awal-awal kelahiranya. Benar- benar sebuah kebangkitan para Ulama.

    Ketiga Kyai Nusantara ini kemana-mana selalu runtang runtung bersama-sama, tetapi dalam urusan rokok, mereka sangat berbeda. Kyai Ma'ruf dikenal sebagai perokok berat, Kyai Abdul Karim tidak merokok sama sekali , sedang Kyai Abu Bakar sesekali terlihat merokok juga. Suatu saat, melihat Kyai Ma'ruf merokok tanpa henti, Kyai Abdul Karim mencoba menggoda : " Kang, iku pawonan opa lambe tho? (Mas, itu tungku api apa mulut?). Kyai Ma'ruf segera menyahuti candaan teman karibnya ini: " Yo iki kang, bedane antarane wedus (dalam riwayat lain "sapi") lan menungso, lek menungso yo ngrokok" (Ya ini mas bedanya antara kambing (sapi) dengan manusia, kalau manusia ya merokok). Sementar Kyai Abu Bakar hanya diam saja melihat kedua sahabatnya ini bercanda, sambil meneruskan bacaan sholawat yg menjadi kebiasannya.

    Di lain kesempatan, Kyai Abdul Karim pernah bercanda : " Wong nok kadung nyekik udud, sok nek nang kuburan ora nemu udud, bakale ngemut dzakare dewe " ( Orang yang sudah kecanduan rokok, saat dikuburan nanti tidak menemukan rokok yang bisa dihisap, maka dia akan menghisap kemaluannya sendiri).
Namun unik juga, kedua menantu KH Abdul Karim, yaitu KH Marzuki Dahlan dan KH Mahrus Ali justru mengikuti jejak KH Ma'ruf Donglo menjadi NU GR (Garis Rokok).
Kendati beliau-beliau berbeda dalam urusan rokok, tetapi mereka sepakat dalam hal minum kopi.

Oleh : fb AN Ang-hab
www.facebook.com/story.php?story_fbid=219188318427545&id=100010091347639