Selasa, 11 April 2017
Kiai Arwani Jadi Rebutan Bidadari
Kiai Arwani Amin Kudus, Allahu yarham, beserta putra-putranya tidak habis pikir mengapa akhir-akhir ini istri beliau sering uring-uringan. Padahal sebelum Kiai Arwani sakit, istri beliau tidak pernah berperilaku demikian. Sebelumnya beliau justru menjadi istri yang sangat lembut. Namun setelah Kiai Arwani sakit, keadaan berbalik begitu drastis.
Karena kebingungan, kedua putra Kiai Arwani sowan kepada Maulana Habib Luthfi di Pekalongan. Kepada beliau mereka menyampaikan permasalahannya dan memohon petunjuk. “Ini bagaimana, Habib?” Keluh mereka.
Mendengar penuturan keluarga Kiai Arwani ini, Habib Luthfi tidak segera berbicara. Sejenak beliau terdiam lalu tersenyum. “Nggak apa-apa,” kata beliau
Kemudian beliau melanjutkan. “Ibu kalian uring-uringan itu wajar. Dia lagi cemburu.”
“Cemburu bagaimana, Habib?” Tanya mereka tak memahami.
“Allah memberi kasyaf (tersingkapnya tabir gaib) kepada ibu kalian sehingga dapat melihat suaminya, yaitu abah kalian, sedang menjadi rebutan para bidadari,” jelas Habib Luthfi.
Ketika kedua putra Kiai Arwani pulang kembali ke rumah, mereka menanyakan kepada ibunya perihal sering uring-uringannya itu. Sang ibu dengan tegas menjawab, “Bagaimana tidak marah, lah wong setiap hari aku melihat abahmu dipeluk perempuan cantik-cantik!”
Bila baru sakit saja sudah menjadi rebutan bidadari, bagaimana nanti setelah meninggal dunia? (Dikisahkan oleh KH. Subhan Makmun, Rais Syuriyah PBNU, dalam kajian kitab Tafsir al-Munir di Islamic Center Brebes, Ahad 7 Februari 2016).
Oleh : fb Syaroni as-Samfuriy
www.facebook.com/story.php?story_fbid=1861837184070712&id=100007333444605
Rabu, 22 Februari 2017
Mbah Salam Pati Cegah Mengaji Al-Hikam
![]() |
| Putra Mbah Salam, Kiai Abdullah Salam (tengah) bersama Habib Luthfi Pekalongan dan Habib Ali Bafaqih Bali |
Al-Hikam, kitab karangan seorang sufi besar Syeikh Ibnu 'Athoillah ini sangatlah terkenal bagi umat Islam. Kitab ini membahas tasawwuf atau kerohanian dalam beragama, guna menjalankan hati dalam penghambaan. Di Indonesia, hampir seluruh Kiai khususnya aswaja memberikan kajian kitab ini kepada santri-santrinya. Mengingat isi kalam-kalam hikmah kitab ini begitu dalam yang mampu menghipnotis kerohanian pembacanya untuk lebih berma'rifat kepada Allah.
Tapi rupanya tidak bagi Kiai Salam (Mbah Salam) Kajen Pati, setiap ada orang mengaji kitab al-Hikam justru dilarang. Dan bukan hanya basa basi, siapa yang tak diizinkan Mbah Salam ternyata setiap melihat isi kitab Al-Hikam malah kebingungan. Al-Alamah Mbah Mahfudz pun tak luput mengalami demikian, karena beliau juga tidak diizinkan oleh Mbah Salam.
Mungkin cara pandang tentang thariqah beliau, seperti pandangan Imam Malik dan beliau menjabarkan,
"ilmu Thoriqoh kui dak usah ti ji, angger mu'takade sah lajeng ngamal coro syariat InsyaAllah inkisyaf, dugi mriku piyambak."
("ilmu Thoriqoh itu tidak perlu dipelajari, asal i'tiqodnya benar dan beramal secara syariat, insyaAllah akan kasyaf sampai sendiri")
Mungkin tampak aneh, karena akhirnya putra Mbah Salam sendiri yakni Mbah Abdullah Salam begitu menguasai dalam mengkaji kitab Al-Hikam. Dan ternyata hal tersebut atas izin Sang Wali Pasuruhan, Kiai Hamid. Sampai-sampai KH. Muhammadun Tayu Pati dawuh yang kurang lebih,
"Jika saja Mbah Abdullah belum mendapatkan izin dari Kiai Hamid untuk mengkaji Al-Hikam, Mbah Salam ayahnya yang didalam kubur akan menemui Mbah Abdullah dan tetap tidak mengizinkan. Tapi kalah dengan keromah Mbah Hamid"
Oleh : admin Imam Mahmudi
Diambil kurang lebihnya dari dawuh KH. Muhammadun Pondowan Tayu Pati
Senin, 13 Februari 2017
Kiai Ma'ruf Irsyad Mendatangi Ilmu
![]() |
| KH. Ma'ruf Irsyad (kiri) dan KH.Arifin Fanani |
Suatu hari, KH. Ma’ruf Irsyad (Allah yarham), disowani (didatangi) seseorang, untuk keperluan menanyakan perihal hukum fiqih. Kepada Kiai Ma’ruf, sang tamu menjelaskan pertanyaannya, begini dan begitu.
“Jenengan tunggu di sini, saya tanyakan dulu kepada kiai yang lebih alim dalam masalah ini,” kata Kiai Ma’ruf.
KH. Ma’ruf Irsyad Kudus kemudian mengambil sepeda unta miliknya, yang biasa beliau gunakan mengajar di Madrasah TBS Kudus dan Qudsiyah. Dikayuhnya sepeda butut tersebut ke arah Utara. Ternyata, beliau pergi ke ndalem (rumah) KH. Arifin Fanani, Kwanaran, kiai pakar ilmu fiqih di Kudus.
Kiai Ma’ruf mengetuk pintu. Dibukalah pintu itu oleh KH Arifin sendiri. Kebetulan tidak sedang tindakan (bepergian). Kepada Kiai Arifin, Kiai Ma’ruf menjelaskan maksud kedatangannya, menanyakan perihal hukum yang termaksud. Mendengar itu, Kiai Arifin terkejut. Kepada Kiai Ma’ruf yang usianya lebih sepuh puluhan tahun, Kiai Arifin bertanya:
“Panjenengan kok dibela-belain datang ke sini, menaiki sepeda sendirian. Alangkah baik umpama cukup lewat telepon saja, yi,”
“Ilmu itu didatangi, dan dia tidak (patut) mendatangi,” kata Kyai Ma’ruf.
Oleh : Santrimenara
Kamis, 09 Februari 2017
Kiai Chudlori dan Santri Pencuri Bebek
Pesantren API Tegalrejo masih diasuh Kiai Chudlori. Suatu malam ada santri mencuri bebek (menthok, jawa). Cak Min, warga pemilik bebek awalnya curiga melihat aliran air membawa bulu-bulu bebek, langsung saja menyelidiki dari mana asal bulu-bulu tersebut. Ternyata di atas bukit sedang asyik santri menyembelih bebeknya. Tanpa menegur santri, Cak Min ke Pesantren dan melaporkan pada keamanan Pesantren. Langsung, keamanan melaporkan kejadian tersebut pada Kiai Chudlori. Bukannya mendapat respon, Kiai menanggapi datar dan hanya mengiyakan.
Esoknya, bukannya santri yang dipanggil Kiai menghadap, tapi malah Cak Min pemilik bebek dijumpai oleh Kiai.
Dengan nada berharap, Kiai dawuh pada pemilik bebek
"Cak, santriku itu dibelain jauh-jauh mondok kemari,, masa karena bebek njenengan, hilang keberkahan ilmunya"
"Bukannya begitu Yai, tapi... "
"Tolong dimaafkan ya Cak, ini sebagai ganti ruginya"
Kiai sambil memberikan uang pada pemilik bebek.
Santri tidak mengira bahwa Kiai tahu apa yang dia lakukan. Karena Kiai sendiri juga tak sedikit pun marah atau bagaimana, seolah tak terjadi apa-apa dan santripun merasa aman-aman saja. Hingga dua bulan berlalu, ketika Kiai mengajar Nahwu dan seperti biasa tamrinan, yakni Kiai memberikan pertanyaan pelajaran sebelum pelajaran usai. Sampai pada bab alam / nama khusus dan umum (personal/general).
Kiai menunjuk santri tersebut, dan santripun berdiri tanpa ada curiga,
"Fulan,, bebek itu nama khusus apa nama umum"
Bukannya menjawab pertanyaan, santri tersebut malah bersimpuh dan menangis di depan Kiai.
"Maaf, Kiai maaf,, saya mencuri Kiai,, maaf"
Dengan sendirinya dia tersadar, bahwa sebenarnya Kiai mengerti semua yang terjadi. Dan dengan kasih sayang serta berkah doa Kiai itulah, santri tersebut tetap mendapatkan keberkahan ilmu dan menjadi Kiai besar.
Adalah bagaimana Ulama terdahulu membimbing dan menghadapi kesalahan seseorang. Memanusiakan manusia.
Oleh : admin Imam Mahmudi
Diambil dari dawuh Gus Dur dan KH M. Najib Muhammad.
Selasa, 31 Januari 2017
Santri Nakal Didikan KH. Fattah Hasyim
Suatu hari di sebuah pesantren, keamanan menangkap santri yang sedang mencuri. Santri tersebut sudah tertangkap beberapa kali dan akhirnya disidang pihak keamanan pesantren. Ironisnya yang dicuri adalah pakaian dalam santri putri (BH,red).
Dilaporkan pada Kiai perihal tersebut
"Yai,, santri ini nakal, sering mencuri BH, kami dari pihak keamanan menginginkan santri ini dikeluarkan"
"Lhooo.. Kalau santri ini nakal jangan bilang saya, saya sudah tahu. Lha dia dipondokan disini karena nakal kok. Apa tak malu, kita dititipi untuk memperbaiki belum baik kok sudah dikembalikan."
Jawab Kiai,, yang membuat kaget para keamanan.
"Tapi ya sudah,, saya hargai hasil musyawarah keamanan bahwa santri ini dikeluarkan dari pesantren, tapi biar sekarang dia tinggal dirumahku saja."
Imbuh Kiai yang semakin membuat keamanan kaget. Bagaimana perlakuan Kiai terhadap santri/orang yang sangat nakal sekalipun.
Walaupun tinggal di rumah Sang Kiai, tak banyak yang harus dikerjakan santri tersebut. Ketika Kiai mau mengajar mengaji, santri cuma disuruh membawakan kitab dan menandai setiap bagian akhir Kiai mengajar. Setiap Kiai mau mengimami sholat santri disuruh mempersiapkan tempat, hanya begitu seterusnya selama dia mondok.
Ternyata dengan cara sederhana tersebut, otomatis dia selalu mengaji dan menyimak setiap kajian dan dawuh Sang Kiai. Begitu juga dengan sholat berjamaah, yang bahkan jadi terbiasa mengikuti Sang Kiai sholat malam.
Setelah beberapa tahun, akhirnya santri tersebut pulang. Tanpa disangka di kampung dia didatangi banyak orang yang ingin menimba ilmu padanya. Hingga dibuatlah sebuah pesantren karena santrinya yang semakin banyak.
____________
Diambil dari dawuh KH. Anwar Zahid Bojonegoro. Ada versi lain dawuh dari Gus Dur ketika di Tegalrejo yang hampir sama dan mungkin sama bahwa Kiai tersebut adalah Kiai Fattah Hasyim Jombang, sebagai keamanan pesantren adalah Gus Dur sendiri dan santri tersebut dirahasiakan. Tapi untuk yang dicuri tidak dijelaskan BeHa.. Hahaha.. Meskipun demikian, ada lagi versi cerita
Pada suatu kesempatan, Gus Dur bertemu santri tersebut yang sudah menjadi Kiai dengan banyak santri. Seolah hanya nyindir dengan santai Gus Dur bertanya,
"yang kamu curi warnanya apa Ndaaa..,?"
Sontak, mereka berdua langsung tertawa terpingkal-pingkal.
Wallahu A'lam...
Al-Faatihah...
Oleh : admin Imam Mahmudi
Diambil dari dawuh Gus Dur dan KH. Anwar Zahid
Langganan:
Postingan (Atom)




