Selasa, 09 Agustus 2016

Kiai Hamid Menghadapi Sakit


    Sebagai manusia ,maka sangatlah wajar jika Kiai hamid mengalami rasa sakit yang menginggapi tubuhnya, namun tidak semua orang mampu menahan dan tidak bercerita tentang sakitnya terhadap orang lain. Akan tetapi lain halnya dengan kiai Hamid ini, beliau sangat pandai didalam menyembunyikan rasa sakitnya terhadap orang lain, dan bahkan terhadap istri beliau sendiri, beliaupun tidak suka menunjukkan rasa sakitnya terhadap orang banyak,seperti jika sakit kepalla dengan sering mememgang kepalanya, jika sakit dada sering memegang dadanya,atau yang lainnya, bahkan beliau nyaris tidak menunjukkan gejala sakitnya itu dikhalayak umum.
Hal seperti ini beliau wasiatkan kepada paman beliau ( usia sang paman ini jauh lebih muda daripada kiai hamid ) ketika di Makkah dengan mengatakan “ Man, loro ojo dirasakno ( sakit jangan dirasakan )”.
Ada cerita unik ketika Kiai Hamid merasakan sakit didadanya,maka beliau mengusap-usap dadanya sendiri, namun ketika tiba-tiba datang istrinya ( Nyai Nafisah ) beliau langsung menyembunyikannya ( seolah-olah tidak pernah merasakan sakit ).

Suatu ketika kiai hamid berbincang-bincang  dengan adik iparnya, tiba-tiba beliau jatuh pingsan,dan ketika siuman beliau mewanti-wanti adik iparnya agar tidak memberitahukan kepada siapapun perihal pingsannya tersebut.

Apakah Kiai Hamid anti dokter ?

Hal inilah yang mugkin jadi pertanyaan kita, jika kita melihat kesabaran beliau didalam menahan rasa sakit yang bersarang didalam tubuhnya.
Kiai Hamid bukanlah tipe kiai yang tidak mau berobat kepada dokter,buktinya ketika ada keluarganya yang sakit,maka beliau menyuruhnya untuk pergi berobat kedoktr,begitu pula jika ada tamu yang meminta kesembuhan kepada beliau, maka beliau menyarankannya untuk pergi kedoktr.akan tetapi jika untuk diri pribadi beliau tidak mau untuk kedokter. Namun beliau tidak anti pati dengan yang namanya obat, hal ini terbukti dikantong saku dan rumah beliau tersedia juga obat kina/sekalor.

Detik-detik menjelang Wafatnya Kiai Hamid.

Kiai Hamid mengidap sakit berat  baru terungkap ketika beliau jatuh anfal dan dirujuk kerumah sakit, dengan melihat hasil rontgen,hasil jantung Kiai Hamid menbengkak/berlubang yang cukup parah dan ginjalnya sudah tidak berfungsi. Menurut keterangan dokter yang menanganinya,seharusnya Kiai Hamid beberapa tahun sebelum jatuh anfal sudah merasakan sakit,sesak nafas/gejala lainnya.namun begitu pandainya kiai Hamid menyembunyikannya,sehingga hal ini tidak terdeteksi dihadapan orang banyak.

Ketika dirumah sakit  beliau tidak menunjukkan perkembangan kesehatannya, dan bahkan makin melemah, maka pihak keluarga beliau membawanya pulang kerumah,sehingga keadaan beliau semakin memburuk dan bahkan mengalami koma.

Bertepatan pada tanggal 9 Robi’ul Awwal 1403 H, Kiai Ahmad Shiddiq duduk disamping Kiai Hamid sambil menuntun Kiai Hamid untuk mengucapkan kalimat “ Alloh…Alloh…Alloh..” tiba-tiba ada sesuatu yang luar biasa terjadi bersamaan dengan ruhnya kiai Hamid dicabut oleh Malaikat,seolah-olah kiai Ahmad Siddiq melihat bayangan kiai Hamid naik meninggalkan jasadnya.

Alfatihah Ilaa KH. Hamid Pasuruan semoga Alloh meratakan rohmatNya kepadanya,meninggikan derajatnya,menempatkan beliau bersama baginda Rosululloh shollallohu alaihi wa aalihi wasallam,dan bersama para syuhada',sholihin, dan semoga kita mendapat keberkahannya,rahasia-rahasianya,serta cahaya-cahaya ilmunya,didalam agama,dunia dan akhirat, bisirril faatihah.

Oleh : fp Istana Buku Aswaja
www.facebook.com/story.php?story_fbid=290266317974490&substory_index=0&id=228946580773131

THARIQAH


    “Tiyang lek sampun thariqah, teng pundi-pundi panggonan, bah teng masjid, teng tegal, pasar, dalan, sekolah lan teng pundi mawon kedah dzikir. Ngelampai pendamelan nopo kemawon nggeh kedah dzikir (mlaku, ngadek, lungguh, meneng, ngomong, kedah dibarengi dzikir teng manah). Niku asmane Wuquf Qalbi: dzikir Allah, Allah, Allah, mboten leren-leren, terus-menerus teng njero ati.” (Orang kalau sudah berthariqah, di mana saja ia berada, entah di masjid, kebun, pasar, sekolah dan dimanapun harus dzikir. Melakukan kegiatan apa saja juga harus dzikir (berjalan, berdiri, duduk, diam, berbicara, harus dibarengi dzikir di hati). Itu disebut dengan Wuquf Qalbi: dzikir Allah, Allah, Allah, tiada henti, terus-menerus di dalam hati.

“Lek sampun saget ngoten, lha niku lho jenenge wes iso topo (bertapa) dek njero pasar. Lha nek enggal saget dzikir ne’ wancine sepi-sepi tok, tapi nek kondisi rame ical dzikire, niku jenengan namung saget topo teng alas thok, tapi mboten saget topo teng tengah pasar. Nggeh topo wonten tengah pasar niki sing paling abbbooodt.” (Kalau sudah demikian, itulah yang dimaksud orang yang mampu bertapa di dalam pasar. Jika hanya bisa berdzikir di dalam kesunyian saja, sedangkan jika dalam kondisi ramai dzikirnya hilang, itu disebut hanya bisa bertapa di dalam hutan. Nah bertapa di tengah-tengah pasar inilah yang sangat berat).

“Dene menawi wonten tiyang ingkang sampun tumut thariqah lan sampun gadah maqom, tapi klakuane awon. Niku mpun disalahaken thariqahe, balek sing salah tiyange.” (Adapun jika ada orang yang sudah berthariqah dan sudah memiliki maqam (derajat tertentu) tapi perilakunya buruk, yang disalahkan jangan thariqahnya melainkan orangnya).

“Sami kados agama Islam, nggeh ngoten. Menawi wonten tiyang Islam kok ngelampai maksiat utawi keawonan, empun Islame sing disalahaken, kranten Islam ngoten sampun sae, balek umate sing salah.” (Sama halnya dengan Islam. Jika ada orang Islam namun suka berbuat maksiat dan keburukan, jangan salahkan Islamnya. Karena Islam itu sudah baik, hanya saja terkadang umat/penganutnya yang masih salah).

(Dawuh Romo Kyai Sholeh Bahruddin saat pengajian Selosoan, sekitar 2006 silam. Dialihbahasakan Jawa ke Indonesia dari Fp: Ngalah Community. Keterangan foto: KH. Sholeh Bahruddin Ngalah Pasuruan, Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan, dan KH. Sholeh Qasim Sidoarjo).

Oleh : GP Kumpulan Foto Ulama dan Habaib
www.facebook.com/story.php?story_fbid=1063642067059798&substory_index=0&id=347695735321105

Minggu, 07 Agustus 2016

Habib dan Soekarno untuk Indonesia


    Pada tahun 1953, Ir. Soekarno (Presiden Pertama Indonesia) datang ke Barabai, Kalimantan Selatan dalam sebuah kunjungan kenegaraan. Rakyat disana sepakat menunjuk Habib Alwi bin Abdullah Al-Habsyi, seorang ulama terkemuka yang disepuhkan disana untuk mewakili mereka menyambut Sang Proklamator Indonesia tersebut. Pada pertemuan itu, terjadi percakapan yang mengesankan bagi Soekarno khususnya dan bangsa Indonesia umumnya.

Presiden bertanya, “Siapa nama Tuan?” “Habib Alwi Al-Habsyi.” Jawab Habib Alwi. Presiden bertanya lagi, “Habib berasal dari Arab kah?” Habib menjawab, “Iya, saya lahir di Hadramaut, Yaman.” Lebih lanjut Presiden bertanya, “Mengapa orang Arab seperti Habib membantu perjuangan rakyat Indonesia?” Dijawab oleh Habib, “Karena saya seorang Muslim, dan rakyat Indonesia juga orang Muslim, jadi saya membantu. Inilah persaudaraan sesama orang Islam.”

Mendengar jawaban Habib Alwi tersebut Presiden Soekarno merasa terpukau. Ternyata rakyat Indonesia tidak berdiri sendiri dalam berjuang, masih banyak orang-orang Islam yang teguh memegang ajaran Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dalam memahami konsep persaudaraan Islam secara global, seperti Habib Alwi bin Abdullah Al-Habsyi ini. Presiden lalu mengundang Habib Alwi untuk datang ke Istana Negara di Jakarta. Namun beliau wafat dulu sebelum sempat memenuhi undangan Presiden. Habib Alwi wafat tahun 1967 dan dimakamkan di Barabai, Kalimantan Selatan.

Oleh : fp Madras Ribath
www.facebook.com/story.php?story_fbid=604198663087585&substory_index=0&id=361352827372171

Sabtu, 06 Agustus 2016

Kemajuan Indonesia


    Mengapa harus membuang keimanan ke-6 kita, hanya karena kemajuan semu mereka?
Sekedar gambaran
--------------~~--------------
     Dalam sebuah pengajian di pondok pesantren magelang, seorang jama'ah bertanya pada kiai.
“Jika kita melihat negara lain di luar, kelihatannya lebih maju dan lebih makmur daripada kita. Padahal tidak ada ulama dan mereka tidak menerapkan islam dalam kesehariannya. Bagaimana pandangan pak kyai tentang hal ini?”
Pak kyai balik bertanya, “Contone negoro sing luwih maju seko awake dewe ki sing endi?”
“Amerika pak kyai”
“Amerika sing luwih maju opone?”
Jama’ah pun tertawa semua.
Pak kyai melanjutkan, “Tak kandani yo, nang amerika kui kelas professor ki hp-ne nokia lawas. Wek dewe tukang batu wis duwe smartphone. Aku ra ngerti amerika kok arani luwih maju ki apane. Daya beli mereka rendah. Mereka gajinya besar tapi barang mahal. Nang kene ra duwe gaji wani rabi.
Indonesia daya belinya dahsyat. Nek ra percoyo njajal nang Singapura. Nek ono toko sing blonjo wong Indonesia, regane diundakno. Nang mekkah, nang Vietnam, awake dewe blonjo mesti regane diundakke, soalnya mereka menganggap semua orang Indonesia kaya. Amerika apane sing luwih maju?
Nang jepang ra isoh wong biasa tuku motor. Nang kene modal 500 ewu motor diter-terke tekan ngomah. Nang Jepang yo kowe angel golek konco ro tonggo, opo meneh nek kulitmu warnane bedo, nang kene sangger jeh apal Pancasila, kuwi koncomu kabeh, kuwi sedulurmu kabeh. Opone sing luwih maju?
Nang kene kowe ndelok liga inggris, liga spanyol, liga champion sakkarepmu. Nang inggris kowe kudu mbayar, malah ono sing inden ngasik telung sasi ming arep ndelok bal-balan. Ko ngono luwih maju?
Kowe nang Malaysia, nang Vietnam, nang Thailand, nginepo nang hotel po losmen. Jam rolas mbengi metuo, golekko mie rebus, golekko udud, golekko kopi. Ra ono, jam malam wis do tutup kabeh, ra oleh wong metu. Nang kene sak ayah2 ono wong dodol. Opone sing luwih maju?
Nang Magelang kene ono pirang macem sambel. Pendak warung bedo. Panganane? Macem2, ngasik mumet ndasmu lek mikir. Nang Eropa kono, seko pucuk elor Norwegia tekan pucuk kidul Spanyol badogane podo. Ngono kuwi luwih maju?
Nang Chino, kowe gawe anak ming oleh siji thok. Punjul seko siji dicekel diinterogasi pemerintah. Nang kene omah jeh ngontrak pendak dino gawe anak. Ngendi negoro sing luwih maju?
Seluruh dunia, yang bisa mensyukuri keberadaan daun pisang ming wong Jowo. Godong gedang isoh dadi pincuk, taqin, dadi suru, dadi lontong, lemper. Di saat negara lain berlomba membuat produk bungkus makanan ramah lingkungan, wong Jowo wis ket jaman kuno lawu nggawe produk kuwi.
Aku nek pas dolan luar negeri rung tau nemoni biting. Onone ming staples. Loh mbok kiro biting ki gampang. Mbiyen butuh beratus tahun nggo nemokke biting. Saiki gampang ming geri niru. Ming seko biting we isoh dadi industry besar. Negoro ngendi sing luwih maju?
Awake dewe ki negoro sing paling disayang Gusti Allah, rasah minder. Kemajuan mereka hanya kemajuan semu.”

Oleh : fb Cak Usma
www.facebook.com/story.php?story_fbid=10207263667845685&id=1104081749

Rabu, 03 Agustus 2016

Mbah Maimoen Iku Biyen Mlarat


    Ungkapan itu diucapkan oleh santri Mbah Yai zaman 60-an, Kyai Syukron Ketangi Pasuruan. Ketika saya sowan kepada beliau, beliau menceritakan kehidupan Mbah Yai pada waktu tahun 60-an. Diantara dawuh beliau tentang Mbah Yai:
"Mbah Moen iku bien mlarat, ga duwe sepeda motor, ono yo sepeda pancal. Pas awal dadi kyai, Mbah Moen iku digawekno musholla kalean Mbah Zubair, terus dadi pondok"
.
"Pas wes duwe pondok, Mbah Moen iku kerjo dodol kitab, manggone neng Masjid Jin dipasrahno santrine seng jenenge Basyir. Lah Mbah Moen iku angger seng tuku wong ora pati duwe, rego kitabe dimurahno, dadi seng asale rego kitabe Sewu dadi Lima ngatos padahal kulak.e iku Sewu. Basyir seng jogo kitabe iku dadi ngelu, opo cukup gawe kulak kitab maneh."
.
"Bien sampe saiki daleme Mbah Yai iku tetep koyo ngono, cuma tembok karo jendelone seng diapik.i, Lek bentuk bangunane tetep ngono, ora gelem digedeno, Seneng sederhana."
.
"Santrine pas iku cuma 70, MGS iku cuma sampe Tsanawiyah. Kelas 2 tsanawiyah iku 14 wong, kelas 3 iku ono 4 wong. Kyai Bukhori Semarang (Ayah Pak Haidar dan Pak Najib) iku duwurku."
.
Pada tahun kemarin Kyai Syukron sowan kepada Mbah Yai, setelah itu Mbah Yai mengambil sebuah kotak yang isinya beberapa uang, kemudian Mbah Yai dawuh:
"Kron.! Bien awakmu ngerti mlaratku. Kotak iki, coro digawe keliling Eropa wong pitu ora bakal ngentekno."
.
Wes manteb ngendikane Mbah Yai: "Angger kuwe ngalim, bakal enak urepmu."
.
Mugi2 angsal barokahe Mbah Yai lan saget kempal teng akhirat benjang.!! Amiiin.!!

Oleh: fb Al Uswah Al Fusha
www.facebook.com/story.php?story_fbid=602894633205506&id=100004549246700